Kaum Miskin dan Umar Ketiga

25 Oct 2012

Iman Sugema dan M. Iqbal Irfany

dimuat di HU Republika, 25 Oktober 2012, hal 26

Pada dua edisi BT sebelumnya telah kita bahas dua Umar yang masing-masing merupakan refleksi mustadhafin (kaum lemah) dan aghniya (kaum berada). Sekarang marilah kita bahas Umar yang ketiga yang tak lain adalah Umar bin Khattab.

Sebagian besar kita tentu sangat mengenal salah satu khulafaurrasyidin ini. Banyak sekali khasanah warisan keteladanan beliau baik dalam bidang hukum (fiqh), politik, ekonomi, pemerintahan, birokrasi dan sebagainya. Adapun pada rubrik ini kami akan mengulas bagaimana pengelolaan ekonominya saja.

Ratusan bahkan mungkin ribuan literatur dan kajian yang mengulas bagaimana Sang Khalifah membangun perekonomian pada masa pemerintahannya. Prestasi Khalifah Umar bin Khattab dalam membangun fondasi perekonomian sangatlah fenomenal apalagi sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Umar bin Khattab sebagai khalifah selama kurang lebih sepuluh tahun, Dalam konteks sekarang, membangun tatanan perekonomian yang bertumbuh, berkeadilan dan dirasakan segenap masyarakat (inclusive growth) selama dua periode jabatan bukanlah mustahil dilakukan.

Formulasi dan kebijakan ekonomi yang baik tentu saja tidak cukup dalam menjamin terwujudnya masyarakat sejahtera yang berkeadilan. Tak hanya tatakelola pemerintahan yang efektif dan efisien; kepedulian, sensitifitas dan karakter pemimpin juga memegang peranan penting. Umar bin Khattab dapatlah dikatakan sebagai salah satu role model pemimpin yang cerdas, bersih, tegas dan berwibawa yang mampu membawa kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan berkeadilan.

Secara pribadi, terlepas peranan Umar sebagai Khalifah sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, beliau sangat dekat dengan rakyatnya. Ia justru tidak menjaga jarak dan menempatkan diri sebagai salah satu bagian masyarakat, dan sangat prihatin terhadap kehidupan pribadi rakyatnya.

Salah satu kisah yang cukup masyhur adalah rutinitas beliau berkeliling melihat langsung kondisi masyarakat. Alkisah suatu malam ketika berkeliling melihat kondisi masyarakat dengan, menyamar sebagai rakyat biasa, Khalifah melewati sebuah rumah yang di dalamnya terdapat seorang ibu yang tengah mengusap-usap perut keroncongan anak-anaknya yang terus menangis meminta makan. Setelah ditanya, sang ibu menjawab bahwa ia tak bisa memberi makan anak-anaknya yang kelaparan sehingga ia berpura-pura memasak batu agar mereka mengira akan tersedia makanan matang setelah mereka bangun nanti.

Si ibu kemudian menyambung jawabannya, Kondisi ini adalah salah khalifah yang sama sekali tak peduli orang miskin seperti kami!. Tertamparlah batin Umar mendengar pernyataan wanita tersebut. Mungkin terbayang olehnya bagaimana pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan. Terbayang di hadapannya si ibu yang akan menjadi jaksa penuntutnya di pengadilan akhirat, dan tentu ialah yang paling pantas sebagai tersangka utamanya.

Tanpa pertimbangan dan retorika pembelaan diri, kembalilah khalifah ke baitul maal dan kemudian ia pikul sendiri makanan untuk keperluan keluarga tersebut. Setelah matang, bangunkanlah anak-anak ibu dan segerakanlah makan bersama mereka, sahut sang khalifah. Kemudian si ibu berkata, Ya Allah, seandainya kami punya pemimpin sebaik orang ini tentu tak akan ada lagi rakyat yang kelaparan seperti kami.. Umar kemudian pamit dan si ibu tidak pernah tahu bahwa pria baik hati tersebut adalah sosok khalifah yang ia idamkan.

Terdapat beberapa pelajaran penting dari kisah tersebut. Pertama, teramat penting bagi pemimpin untuk mengetahui secara jernih apa yang sesungguhnya dihadapi masyarakat dengan mata dan pengalamannya sendiri. Jika hal ini terus ditumbuhkan, awarenessdan kepekaan pemimpin dalam memperhatikan nasib golongan marjinal akan semakin mendalam.

Walaupun dalam konteks sekarang hampir tidak mungkin bagi seorang pemimpin negara untuk memantau kondisi ekonomi setiap keluarga satu persatu. namun esensinya adalah bahwa seorang pemimpin harus memiliki informasi yang valid dan komprehensif mengenai profil kemiskinan masyarakat sehingga kebijakanakan tepat dan efektif, bukan hanya berdasarkan informasi dari bawahan saja. Sang khalifah juga mengajarkan kepada kita bahwa pemimpin sejatinya berperan sebagai pelayan yang bekerja untuk membantu orang miskin, bukan justru mencari pekerjaan di atas penderitaan masyarakat miskin.

Kedua, tak dapat dipungkiri bahwa fakir miskin dan golongan marginal lainnya adalah tanggung jawab pemimpin (atau negara dalam konteks institusi). Dikatakan demikian karena kaum miskin sejatinya adalah mereka yang terjebak dalam ketidakberdayaan dan marginalisasi sosio-ekonomi dan keterbatasan terhadap akses-akses kehidupan lainnya.

Professor Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, menyebut bahwa kemiskinan sejatinya merupakan jebakan penderitaan persisten dan terus menerus dimana kaum miskin sendiri pun sulit lepas daripadanya. Karena miskin, mereka kelaparan atau kurang gizi sehingga tak bisa bekerja secara produktif. Anak-anak mereka pun tidak mampu (bukannya tidak mau) bersekolah secara memadai sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di masa mendatang. Demikian halnya kesehatan yang sangat rentan karena ketika sakit mereka tak mampu untuk membeli obat atau berobat di rumah sakit. Kalau pemerintah absen, mungkin ada benarnya pernyataan orang miskin dilarang sekolah, tidak boleh pintar, atauorang miskin dilarang sakit, kecuali kalau ingin tambah sakit.

Adalah tanggung jawab negara untuk mengangkat mereka lepas dari jebakan kemiskinan. Jangankan kesewenang-wenangan terhadap warga miskin, pembiaran pemerintah terhadap kaum miskin (government absenteeism) pun merupakan salah satu bentuk kezaliman. Pembiaran rakyat dalam kubangan kemiskinan sejatinya merupakan disfungsi peranan pemerintah. Jangan sampai ada keresahaan, kekecewaan bahkan keputusasaan kaum lemah terhadap fungsi pemerintah (bahkan negara) yang semestinya berperan sebagai pelindung (ibu pertiwi) bagi segenap elemen masyarakat.

Ketiga, penanggulangan kemiskinan haruslah merupakan inisiasi dan inspirasi pemimpin. Walaupun saat ini mungkin sangat sulit bila para pemimpin turun tangan sendiri, namun esensinya adalah bagaimana para pemimpin negara mesti mempunyai komitmen yang kuat yang berasal dari dirinya sendiri untuk kemiskinan. Komitmen ini pun mesti disertai keteladanan dan sikap hidup sederhana baik pribadi maupun keluarganya. Dilalatul-hal awla min dilalatil-maqal, mengajak dengan keteladanan nyata (dakwah bil hal) lebih utama daripada ajakan hanya dengan ucapan (maqal).

Setelah mempelajari kisah keteladanan di atas, menarik ditelusuri seperti apa dan bagaimana implementasi kebijakan ekonomi Umar bin Khattab. Hal tersebut terkait bagaimana kebijakan kepemilikan (penguasaan) asset ekonomi, kebijakan mendorong produksi, kebijakan fiskal dan pengelolaan kekayaan negara, kebijakan redistribusi dan jaminan sosial, kebijakan penanganan krisis, dan sebagainya. Pada BT edisi mendatang insya Allah kita akan mengulasnya. Semoga kita dianugerahi kekuatan dalam mengkaji dan menyerap hikmah tersembunyi di balik sejarah dan kejadian.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post