Opor Ayam dan Tiga Umar

27 Sep 2012

Iman Sugema dan M Iqbal Irfany

dimuat di HU Republika, Iqtishodia rubrik Bukan Tafsir, 27 September 2012 halaman 26

 

Dalam rubrik BT bulan yang lalu kita telah membahas bagaimana dua orang Umar menikmati opor ayam dengan cara bersyukur secara bersungguh-sungguh. Nikmatnya menyantap semangkok opor ayam menjadi jauh lebih bermakna kalau dibarengi dengan rasa syukur. Ada dua hal yang dapat ditarik dari kedua Umar tersebut.

Pertama, dalam pengembangan teori ekonomi Islam atau lebih tepatnya teori ekonomi yang berjiwa Islami, utility function yang menggambarkan tingkat kepuasan konsumsi terdiri dari dua komponen yaitu kepuasan yang bemakna menikmati dan kepuasan dalam mensyukuri nikmat. Teori konsumsi dalam ekonomi Islam jelas memiliki fondasi yang berbeda dibanding teori ekonomi yang kita pelajari sehari-hari di bangku kuliah.

Dalam teori ekonomi, kepuasan hanya berasosiasi dengan satu hal yakni menikmati konsumsi. Semakin banyak opor yang dinikmati, semakin tinggi pula tingkat kepuasan. Namun setelah tercapai kepuasan maksimum, justru penambahan konsumsi opor akan menghasilkan tingkat kepuasaan yang lebih rendah. Itulah yang disebut dengan hukum diminishing marginal utility.

Dalam ekonomi Islam, teori utilitas tidak bisa dibangun secara sederhana seperti itu. Tingkat kepuasan tidak hanya ditentukan oleh jumlah opor yang dikonsumsi, tetapi juga oleh sejauh mana kita mensyukuri nikmatnya mengkonsumsi opor. Pertanyaannya, apakah dua komponen ini bersifat aditif ataukah multiplikatif. Jawabanya jelas bukan kedua-duanya dan itu akan menjadi jelas dengan memperhatikan hikmah yang kedua berikut ini.

Kedua, dalam teori ekonomi Islam mestinya komponen utilitas dalam konteks menikmati konsumsi opor dengan utilitas dari mensyukuri nikmat merupakan dua konteks yang berbeda. Dalam istilah matematika, fungsi utilitas menikmati dan mensyukuri nikmat adalah bersifat separable atau dapat dipisahkan. Namun demikian, komponen yang kedua memiliki prasyarat bahwa kita pernah menikmati opor. Mana bisa kita mensyukuri nikmatnya semangkuk opor tanpa pernah mencicipinya sama sekali.

Tetapi dimensi mensyukuri dengan menikmati tetap merupakan hal yang terpisah. Alasannya sederhana saja. Mensyukuri, bisa dilakukan dengan cara berbagi konsumsi opor. Umar sang habib, mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah tidak dengan cara menambah jumlah konsumsi opor. Ia justru mampu lebih bersyukur ketika rejekinya itu dibagi dengan Umar si anak kecil. Kalau dimensi nikmat dan syukur itu tidak terpisahkan maka tidak akan ada seorang pun yang mau berbagi nikmat. Walaupun nilmat itu hanyalah timbul dari semangkuk opor saja.

Tugas para ekonom Islam menjadi lebih berat untuk merumuskan utility function manakala berusan dengan Umar yang ketiga yakni Khalifah Umar bin Khatab dan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Dua-duanya adalah konglomerat yang bergelimang kekayaan. Tetapi ketika beliau menjadi khalifah, justru keduanya berubah total menjadi pribadi yang teramat sederhana. Jauh lebih sederhana dibanding orang miskin sekalipun.

Singkat kata, kedua khalifah ini mendedikasikan hidupnya hanya untuk kepentingan masyarakat. Hasilnya, Umar bin Khatab merupakan khalifah yang semasa kekuasaanya banyak menelurkan fondasi fiqih ekonomi Islam. Umar bin Abdul Azis berhasil menghapuskan kemiskinan dan korupsi yang akut hanya dalam tempo tiga tahun saja. Kalau di Indonesia ada orang yang punya karakter seperti ini maka kami yakin Indonesia akan mampu terbebas dari kemiskinan dan korupsi.

Bagi para ekonom sekarang ini, tantangannya adalah bagaimana memasukan unsur syukur dan zuhud sebagai dimensi terpenting dalam teori ekonomi Islam. Kalau kita sebagai ekonom telah bisa merumuskannya dengan baik, maka mestinya kehidupan ekonomi masyarakat muslim maupun non-muslim akan menjadi lebih baik dalam tempo yang paling singkat.

Kami berdua, baru sampai pada perumusan tentang dimensi syukur dalam teori konsumsi. Kami belum sampai kepada pemahaman bagaimana melepas dimensi materi duniawi justru akan kemakmuran material yang lebih singkat. Ide dasarnya sih mungkin bisa kita raba-raba. Tapi menuangkannya dalam bentuk teori yang baku, terus terang saja otak kami belum sampai. Semoga saja ada pembaca yang tertarik dan mampu memecahkan teka-teki ini. Wallahu a’lam.

 


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post