Ketupat, Opor dan Tiga Umar

23 Aug 2012

Iman Sugema dan M. Iqbal Irfany

dimuat di HU Republika, 23 Agustus 2012, hal 26

 

Umar yang pertama adalah seorang bocah kecil berumur tujuh tahun yang sudah tiga tahun berturut turut selalu menamatkan puasa dengan baik. Itikaf di masjid jami sebelah rumahnya tak pernah ia lewatkan barang seharipun.

Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda ditinggal mati suaminya dua tahun yang lalu. Ibunya berprofesi sebagai buruh tani serabutan di areal pertanian milik para juragan yang tak jauh dari lokasi base camp tim SAR Sukhoi yang menabrak Gunung Salak beberapa waktu yang lalu. Gurat penderitaan kemiskinan sangat tampak di wajah ibu muda tersebut.

Bagi Umar, ini adalah lebaran kedua yang dirayakan tanpa opor ayam yang dimasak oleh ibunya. Ketika ayahnya masih hidup, baju baru, ketupat dan opor selalu menjadi simbol di hari kemenangan. Kali ini kemenangan itu ia rayakan hanya bersama ibunya, beberapa ikat ketupat, telor dadar dan sambal. Selepas sholat Ied, keduanya menyantap lahap makanan tersebut dengan penuh suka cita. Tak ada kemuraman sedikit pun di wajah keduanya. Mereka dipenuhi oleh rasa syukur karena telah dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan dan berhasil menjalani ibadah puasa dengan baik.

Anak kecil itu kemudian minta izin untuk bertandang ke rumah seorang habib yang jaraknya tiga kilometer dari rumah mereka. Bu, saya ke rumah habib ya, mau nunjukin bahwa peci haji yang diberikannya tahun lalu sekarang udah pas di kepala saya. Ibunya, mengiyakan saja kemauan anaknya. Ia tahu maksud anaknya bukan hanya sekedar silaturahmi, tetapi ia justru sedang berharap dapat hidangan opor ayam di rumah habib. Batinnya menangis karena ia tak kunjung mampu memberi hidangan kesukaan anaknya.

Umar yang kedua adalah sang habib itu sendiri. Di hari raya itu ia begitu sibuknya menerima ribuan tamu yang bersilaturahmi ke rumahnya. Matanya sesekali menengok jauh keluar seakan menanti tamu yang ia tunggu-tunggu.

Ketika Umar si anak kecil datang bersama teman-temannya, hati habib begitu riang. Ia peluk anak itu. Ia keluarkan sapu tangan putih bersih untuk menyeka keringat yang membasahi pipi anak itu. Tak pernah ada seorang anakpun yang diperlakukan seperti itu oleh sang habib yang terkenal berakhlak mulia itu.

Ketika acara makan tiba, sang habib tak pernah lepas memandang pada apa yang dilakukan oleh Umar. Anak kecil itu tampak khusyu menikmati ketupat dan opor ayam. Beda dengan anak lain yang begitu lahap, anak yang satu ini tampak mengunyah dengan begitu pelan seakan ia sedang menikmati setiap gigitan. Sang habib mendekatinya dari belakang, sekedar ingin mencuri tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi pada anak itu.

Subhanallah , sebelum suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, anak kecil itu mengucap basmallah. Kemudian ia mengunyah secara perlahan seakan tidak ingin melewatkan semua kenikmatan opor itu lewat begitu cepat dari lidahnya. Sebutir air mata masuk ke mangkok di tangannya. Selesai suapan pertama ia mengucap hamdallah. Suapan yang kedua ia buka dengan basmallah, dinikmati dan ditutup dengan hamdallah. Tetes air mata yang kedua pun masuk ke mangkoknya. Di suapan ketiga dan seterusnya ia melakukan hal yang sama.

Tak terasa sang habib mengikuti polah si Umar kecil. Setiap suap ia dahului dengan basmallah dan ditutup dengan hamdallah. Baru tiga suap saja, air mata sang habib bercucuran dengan derasnya. Termenung sejenak, mengucap syukur ribuan kali dengan khusyu. Habib memutuskan untuk masuk kamar saking tak kuasa menahan tangis haru bahagia. Di kamar ia melakukan sujud syukur, lama sekali.

Malamnya, sang istri bertanya kepada habib mengapa ia menangisi makanannya. Apakah kurang enak?

Bukan begitu istriku. Ane baru saja mendapatkan pelajaran paling berharga dalam hidup ane dari Allah melalui Umar si anak kecil itu. Baru pertama kali itu ane merasakan hadirnya Allah dan Rasul-Nya saat makan. Sudah ribuan piring makanan lezat mampir ke mulut ane. Baru kali ini merasakan nikmatnya suapan dari surga. Harta yang melimpah dan kehormatan yang tinggi sudah kita dapatkan. Tapi cara kita mensyukuri nikmat itu masih kalah jauh dibanding si Umar. Ternyata kenikmatan itu datang sangat tergantung pada cara kita mensyukurinya. Wallahu alam bis-shawab.

Ya, di hari yang fitri itu semua orang adalah pemenang. Yang miskin dan yang kaya sama-sama bisa menikmati kemenangan. Yang papa dan terhormat mestinya sama-sama mendapatkan kebahagiaan di hari itu. Lantas pertanyaannya adalah bagaimana supaya tidak ada seorang manusiapun yang terlewatkan dalam menikmati hari kemenangan.

Jawaban untuk itu, ada pada Umar yang ketiga yakni Khalifah Umar bin Khattab. Lho apa urusannya beliau dengan masalah opor ayam? Tunggu saja ceritanya di Bukan Tafsir edisi bulan depan. Semoga kita masih diberi umur untuk menjelaskan bagaimana konsep ekonomi islami ala Umar bin Khatab dapat menjawab hal ini.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post