Tazkiyah ekonomi syariah: cita-cita dan realitas

26 Jul 2012

Iman Sugema dan M. Iqbal Irfany

dimuat di HU Republika, 26 Juli 2012 hal 26

Salah satu isu yang menarik didiskusikan para pakar ekonomi syariah dalam satu sesi diskusi di seminar keuangan syariah di University of Durham beberapa waktu lalu adalah tentang bagaimana konsepsi dan tata nilai keuangan syariah yang ideal vis a vis realitas kekiniannya.

Seperti dikampanyekan, ekonomi-keuangan syariah secara normatif ditujukan untuk menciptakan keadilan sosial dengan menawarkan moral economy yang dalam implementasinya tercermin dari terbentuknya lembaga dan mekanisme keuangan syariah.

Kalau kita bersepakat bahwa ekonomi syariah merupakan sistem tersendiri yang menawarkan hal yang berbeda dari mainstream,maka sistem ini harus siap terus diuji validitasnya yang biasanya dinilai dari kompatibilitasnya dengan sistem/aspek kehidupan lainnya, konsistensi para penggiat (stakeholdernya), dan konsistensi dalam keseimbangan pertumbuhan dan keadilan sosial. Tantangan itulah yang terus dihadapi sehingga dapat dikatakan bahwa ekonomi syariah tak hanya berbeda tapi juga memiliki nilai lebih daripada sistem yang lainnya.

Beranjak dari hanya ideal ekonomi syariah, hal yang mendasar yang dilakukan ke depan adalah ketersediaan norma operasional bagaimana sistem ini bisa dijalankan. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: a) konsistensi kepatuhan stakeholder terhadap nilai moral economy, b) adaptabilitas keuangan syariah terhadap perubahan (sosial dan teknologi) baru yang terjadi di masyarakat; dan c) adanya institusi syariah yang terpercaya, kuat dan stabil.

Ekonomi (terutama keuangan) syariah memang mengalami pertumbuhan massif dan memiliki potensi terus berkembang di masa mendatang. Hanya saja salah satu catatan tebal adalah dalam beberapa sisi pertumbuhan ini masih didominasi pragmatisme. Pemahaman dan kesadaran yang belum menyeluruh akan maqashid ekonomi kemudian menyebabkan perkembangan ekonomi syariah dalam implementasinya in line dengan paradigma konvensional.

Pertumbuhan pasar keuangan syariah yang masih didominasi insentif ekonomi sebagai prioritas dibanding pengusungan moralitas agama memaksa keuangan syariah dapat dikatakan tak sama tapi serupa dengan sistem keuangan konvensional. Fenomena ini semakin nampak semenjak 1990-an dimana keuangan syariah boleh dikatakan representasi hybrid sistem keuangan konvensional.Masyarakat semakin sulit membedakan apa sejatinya ekonomi/keuangan syariah dan menganggap penciri keuangan syariah semakin direduksi menjadi mekanisme transaksi (akad) saja.

Hal tersebut tentu saja berimplikasi tidak baik bagi keberlangsungan dan persepsi masyarakat yang menilai keuangan syariah sama saja dengan konvensional, dan lebih penting adalah terabaikannya aspek moral dan aspirasi ajaran islami yang justru menjadi ide pokoknya. Posisi pragmatis keuangan syariah boleh jadi karena para stakeholder menginterpretasikan bahwa homo-Islamicusdanhomo-economicus adalah sama. Padahal, inti pokok ekonomi syariah yang membawa aspirasi moral ekonomi berlandaskan ajaran agama adalah lebih menekankan keadilan sosial. Keuangan syariah tampaknya belum dapat serta merta mengklaim sesuai dengan nilai ekonomi yang islami.

Meskipun perkembangan belum sepenuhnya sesuai dengan maqashid, tulisan ini tidak menunjukkan bahwa bank dan lembaga keuangan syariah harus ditinggalkan karena tidak bisa mensinergikan insentif dengan etika dan keadilan sosial.Dibandingkan dengan lembaga keuangan konvensional, lembaga keuangan syariah bolehlah dianggap sebagai the second best solution.

Karena kita anggap sebagai second best solution, belajar dari pengalaman, tentu dibutuhkan suatu model baru pengembangan keuangan syariah dengan gagasan yang lebih otentik dan cergas terkait sistem ekonomi dan keuangan benar-benar berbasis moral islami.Koreksi dan penyempurnaan keuangan syariah lebih pada bagaimana dan seberapa besar kontribusinya pada pengembangan yang berfokus pada dampak pada kesejahteraan dan keadilan sosial tak hanya kinerja keuangan.

Perlu diingat, terminologi syariah dalam ekonomi syariah atau islamic dalam Islamic economics sejatinya terkait erat dengan tujuan sosial dan ekonomi dari transaksi keuangan, bukan hanya mekanisme akad. Dari sisi branding, terminologi syariah bank syariah boleh jadi bisa diganti misalnya dengan bernama bank sosial, ethical bank, lembaga keuangan madani, mitra investasi madani, dan sejenisnya. Branding social bank atau ethical bank bahkan sudah ada di beberapa negara Eropa dan Mesir.Bukankah esensialisasi dan substance oriented berlandaskan bermoral agama itu lebih penting daripada mengedepankan simbol-simbol?

Tujuan akhirnya tentu saja arah kebijakan syariah yang tidak hanya polesan mekanistik tapi lebih jauh sebagai mitra masyarakat dalam meningkatkan harkat kesejahteraan.Perbankan syariah, dengan demikian akan memperoleh citra dan identitas baru dari masyarakat sebagai bank yang benar-benar berdasarkan substansi agama dan moralitas. Prinsip-prinsip mendasar sistem ekonomi syariah yang bertujuan menuju falah (kesejahteraan dunia akhirat) dan tazkiyah (proses bertumbuh dan penyucian diri) dapat digapai.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post